BIO ACTIVA

menyembuhkan berbagai macam penyakit

>

EXEITER 15 WATT

kualitas bagus

1kw_coupler_b

BOSTER 1000 WATT

redy stok

redy stok

EXEITER+POP

redy stok

blf578_1000w

redy stok

redy stok

PEMANCAR 300WAT

redy stok

PEMANCAR 100w

redy stok

PEMANCAR+100+WATT

redy stok

pll 15watt

redy stok

stereocoder

redy stok

front_panel

redy stok

EXEITER+15+WATT

redy stok

Senin, 26 Desember 2011

Produksi Minyak di Blok Toili Diperbesar

JAKARTA;Konsorsium Pertamina-MedcoEnergi yang membentuk Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, akan meningkatkan produksi minyaknya dan gasnya di Blok Toili di Sulawesi Tengah. Mereka akan memperbesar produksi dengan menambah sumur yang ada di.blok itu mulai tahun depan.

Indra Prasetya, General Manager JOB PertaminaMedco E&P Tomori Sulawesi, menceritakan, Blok Tioli memiliki dua lapangan, yakni Tiaka dan Senoro. Saat ini di Tiaka sudah ada enam sumur dengan total produksi 1.5001.600 barel per hari (bph). "Mulai tahun depan, akan beroperasi tiga sumur barn," jelas Indra saat berkunjung ke KONTAN, Kamis (3/11).

Rencananya, sumur barn yang pertama akan dibor mulai Maret 2012. Bila prosesnya lancar, is memperkirakan, sumur tersebut akan bisa menghasilkan minyak sekitar Juli 2012. Selanjutnya, manajemen baru akan mengebor sumur kedua dan ditargetkan berproduksi pada September 2012. "Pengeboran sumur ketiga menyusul setelahnya, dan bakal berproduksi pada akhir tahun 2012," jelas Indra.

Tentu Baja, hal itu akan meningkatkan produksi minyak dari blok itu. Kapasitas sumur baru mencapai 600-700 bph, lebih besar dari sumur lama hanya sekitar 200-300 bph. "Penjualan minyak juga akan berlangsung lebih cepat," tandas Indra.

Selama ini mereka harus menampung dulu minyak itu hingga mencapai 180.000200.000 barel sebelum menjualnya. Biasanya, pengumpulan berlangsung
selama tiga-empat bulan.

Di lapangan ini, merekajuga memproduksi gas sebesar 5 juta metrik kaki kubik per
hari atau milion metric standard cubic feet per day (mmscfd). Namun, gas itu belum ada pembelinya. "PLN sudah melihat ke lapangan, jadi tinggal menunggu saja," kata Indra. Setelah PLN, Pertagas dan Medco juga akan mensurvei gas itu.

Di lapangan Senoro, manajemen telah mempersiapkan pengeboran sumur gas. Bersamaan dengan itu, juga membangun penampung gas atau central processing plant (CPP). Indra bilang, proyek ini sudah memasuki tender. "Ada lima perusahaan yang lolos prakualifikasi," tutur Indra tanpa merinci

-oo000oo-Masing-masing sumur baru di Blok Tiaka berkapasitas 600-700 bph-oo000oo-

Nantinya, gas yang dihasilkan dari Senoro akan dipasok untuk diolah menjadi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di kilang LNG Donggi Senoro. Pembangunan kilang itu kini sedang berlangsung dan diperkirakan akan selesai tahun 2014. Total gas dari Senoro akan mencapai .250 mmscfd. "Kami juga akan mengalirkan gas ke pabrik pupuk yang segera ada di daerah ini," ajar Indra.

Ekhsan Nulhakim, Lead of Corporate Communication MedcoEnergi, menambahkan, perusahaannya akan terns memperbesar kapasitas produksi. Mereka memiliki hak operasi dari 1997- 2027. "Dulu, Blok Toili pernah memproduksi minyak 3.000 bph. Itu harus dicapai lagi," katanya.

Medco Menjual Aset Blok Senoro Toili

JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) semakin agresif menjual aset-aset blok migas yang mereka kuasai. Manajemen MEDC, kemarin (31/1), mengumumkan penjualan 100% kepemilikannya di Tomori E&P Limited (TEL) kepada Mitsubishi Corporation.

Dari transaksi tersebut, MEDC meraup dana senilai US$ 260 juta atau Rp 2,34 triliun.
Tomori adalah pemegang 20% hak partisipasi atas kontrak bagi hasil produksi atau production sharing contract (PSC) proyek Senoro Toili atau blok Senoro Toili PSC.

Sebesar 30% hak partisipasi blok ini dimiliki PT Medco E&P Tomori Sulawesi, yang juga anak perusahaan MEDC. Adapun 50% saham yang tersisa berada di tangan PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi, anak usaha PT Pertamina.

MEDC mengambilalih 50% hak partisipasi blok tersebut pada 2000 silam. Lapangan minyak Toili telah memproduksi 1.900 barel minyak per hari. Para pengelola blok Senoro Toili juga telah memegang 250 mmcfd perjanjian jual beli gas dengan PT Donggi Senoro LNG. Ini adalah perusahaan yang dimiliki tiga pihak, yakni Sulawesi LNG Development Limited, Pertamina, dan MEDC.

Butuh dana besar

Porsi kepemilikan MEDC sendiri di Donggi Senoro LNG telah menyusut dari semula 20% menjadi 11,1%. Sedangkan Sulawesi LNG menguasai 59,9% dan Pertamina 29%. Porsi MEDC menciut lantaran tidak ikut menyuntikkan modal ke Donggi Senoro LNG, beberapa waktu lalu.
Saat ini, MEDC memang membutuhkan dana cukup besar untuk memenuhi kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex).

"Dana (hasil penjualan Tomori) akan dipakai untuk capex tahun ini," ajar Nusky Suyono, Investor Relations MEDC, kemarin.

Perusahaan yang dikendalikan keluarga Panigoro ini mengalokasikan dana sekitar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta untuk capex 2011.

-ooOoo-
MEDC menjual Tomori karena membutuhkan dana cukup besar pada tahun ini.
-ooOoo-

Perinciannya: alokasi capex untuk pengembangan blok-blok migas senilai US$ 254 juta. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk proyek di luar itu, seperti pembangkit listrik.

Kepala Riset Recapital Securities Pardomuan Sihombing menilai lang-' kah MEDC menjual anak usahanya bisa memberikan dampak positif bagi kondisi keuangan perusahaan. "Medco akan mendapat kas dalam jumlah besar setelah menjual anak usahanya," kata Pardomuan kepada KONTAN, Senin (31/1).

Aksi MEDC menjual Tomori bukan sesuatu yang patut disayangkan jika perusahaan itu memang melihat peluang investasi yang lebih menarik di sektor lain. Menurut Pardomuan, yang harus dipikirkan manajemen MEDC adalah mencari peluang bisnis yang lain sebagal pengganti.

Deddy Ertanto, Analis Capital Price Sekuritas, menimpali, penjualan anak usaha memungkinkan MEDC untuk menekan rasio utangnya. "Sehingga cash/low perusahaan tidak terganggu," imbuh dia.

Pardomuan memprediksi, harga MEDC bisa naik menjadi Rp 3.500 per saham di akhir 2011. Dia merekomendasikan buy on weakness MEDC. Harga MEDC kemarin naik 0,78% menjadi Rp 3.225 per saham.

Transmigran Di Sausu & Toili

BERITA mengejutkan beruntun datang dari Sulawesi Tengah. Mula-mula 40 transmigran asal Bali meninggal terserang malaria di Sulawesi Tengah. Sepuluh hari kemudian jumlah korban meningkat dua kali. Hingga Oka Mahendra, anggota DPR dari daerah pemilihan Bali, minggu lalu merasa perlu menyurati Menmud Transmigrasi Martono menanyakan musibah tersebut. Dan akhir pekan lalu, Martono yang tengah meninjau beberapa lokasi transmigrasi di Sul-Teng mengungkapkan jumlah korban yahg sebenarnya, yaitu 113 orang. Tapi, katanya, tidak semuanya karena malaria. Menurut Dirjen Transmigrasi Kadrusno, yang meninggal karena malaria 85 orang, sedang 28 lainnya karena pen yakit lain. Para korban tersebut baru beberapa minggu tiba dari Karangasem, Bali. Mereka termasuk rombongan yang berangkat pertengahan Maret, terdiri 50 kk. Sebagian tinggal di proyek transmigrasi Sausu Tambarana, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupatn Donggala lainnya di Toili, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Menurut pemeriksaan medis, limpa para korban membengkak sampai 2,5. "Ini berarti penderita sudah lama mengidap malaria," kata dr. Pintor Simorangkir dari RS Undata, Palu. Limpa itulah memang yang pertama-tama diserang oleh bibit malaria yang kronis. "Setelah itu menyerang butir darah merah," tambah Pintor. Dengan begitu, menurut para pejabat kesehatan di Sul-Teng, penyakit tersebut sudah dibawa sejak dari daerah asal. Wakil kepala Kanwil Transmigrasi Sul-Teng, Demas, membuktikan hal itu dengan menunjuk pada puluhan kepala keluarga transmigran asal DKI, Yogya, Ja-Tim, juga Bali yang sudah tiba lebih dulu di kedua lokasi tersebut -- begitu pula yang di lokasi lain sehat-sehat saja. Sebuah tim gabungan dari pusat dan daerah (Bali dan Sul-Teng) sudah turun ke Sausu dan Toili. Selama 5 hari tim memeriksa dan mengobati para transmigran secara massal, termasuk 100 transmigran yang dirawat di poliklinik setempat . Akhirnya tim menyimpulkan ada lima faktor penyebab musibah tersebut. Yaitu kurangnya perhatian dalam pengamanan kesehatan sejak dari daerah asal terlambatnya penyemprotan rumah transmigran di daerah tujuan kurangnya usaha penanggulangan wabah sedini mungkin kurangnya persediaan kelambu dan terlambatnya laporan dari daerah musibah. Kesimpulan itu nampaknya dibuat senetral mungkin. Sebab sebelumnya terkesan adanya saling menyalahkan antara para petugas kesehatan Sul-Teng dan Bali. Ka-Kanwil Departemen Kesehatan Sul-Teng, dr. Udin Muslaini, misalnya, berkata: musibah itu tak perlu terjadi andai jadwal kedatangan transmigran diketahui pihak Kanwil. "Apalagi bila pemeriksaan kesehatan dilakukan secara teliti," tambahnya. Tapi menurut dokter Kabupaten Karangasem, Tjokorde Gde Ardjana, pemeriksaan secara teliti termasuk pemeriksaan laboratorium tidak mungkin dilakukan terhadap ratusan transmigran hanya dalam waktu 4 sampai 5 hari yaitu saat mereka dikarantina sebelum berangkat. "Tapi transmigran yang berangkat itu umumnya sehat," tambah Tjokorde. Tuduhan yang dilontarkan Ka-Kanwil Transmigrasi Bali, drs. K. Berlin lebih serius. Dia menilai Pemda Sul-Teng mengabaikan pelayanan kesehatan para transmigran. Menurut laporan yang diterimanya dari utusan transmigran yang kembali ke Bali, di proyek transmigrasi tidak tersedia obat-obatan. Made Wirti, misalnya, salah seorang transmigran yang pulang dan kini dirawat di RSU Amlapura Karangasem, mengalami kesulitan di Toili. "Sebelum berangkat saya membeli 150 biji pil kina. Tapi setelah habis saya tak mendapat obat," tuturnya kepada Antara. Bahwa Sul-Teng merupakan daerah malaria endemik, diakui oleh dr. Udin Muslaini. Bahkan menurut dr. Akib Kamaludin dari Ditjen P3M (Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular) Di Toili ditemukan jenis nyamuk baru anopbeles minimus flavirostris, sedang di Sausu ada anopheles barbirostris, yaitu dua dari 57 jenis nyamuk ganas di duma. Selain penyakit malaria, ada keluhan lain dari transmigran yang bermukim di Sausu dan Toili. Antara lain sarana perhubungan yang sangat sulit. Banyak sungai di sana tanpa jembatan. Kalaupun ada, hanya berupa jembatan darurat bikinan penduduk yang mudah putus di musim banjir. Begitu pula jalanjalan yang ada, selain naik-turun perbukitan, juga licin di musim hujan. Selain tikus dan walang sangit di daerah ini dikenal pula hama tanaman berupa rusa, babi hutan dan sejenis monyet tanpa ekor yang di sana disebut yakis. Obat pembasmi hama? Di sana barang semacam itu hampir tak dikenal orang.

Toili Kaya Sumber Daya Alam



Salah satu lumbung padi di kabupaten banggai adalah kecamatan toili, yang merupakan pemasok beras terbesar di kabupaten banggai. Selain itu juga minyak bumi sudah membanjiri toili dan sejumlah perusahaan tambang menjajaki bumi toili untuk mendeteksi tentang keberadaan minyak bumi. Ternyata di sejumlah daerah terdapat gas yang dapat menambah pasukan minyak mentah selanjutnya dikirim ke Kalimantan untuk diolah. Selain minyak bumi juga terdapat ribuan hektar kelapa sawit yang menjadi sumber pembuatan minyak kelapa. Hal ini sudah beroperasi lama dan menurut fakta yang ada dengan banyaknya lahan sawit yang ada tidak diimbangi dengan perusahaan yang mengolahnya. Akibatnya sawit-sawit berserakan dimana sehingga tidak dapat diolah atau kalaupun sawit diolah dengan keterlambatan waktu menyebabkan kadar minyak semakin menurun.
Selain terdapat minyak bumi, lumbung padi, kebun kelapa sawit, toili diperkaya dengan keberadaan tambangan emas yang mengguncang seluruh Indonesia. Semua orang berbondong-bondong untuk menggali emas sebanyak-banyaknya. Keberadaan toili sekarang bukan hanya dipadati oleh masyarakat setempat, tetapi juga masyarakat dari kendari, Sulawesi selatan, gorontalo, Sulawesi utara, jawa, Kalimantan dan papua sudah menghampiri dataran toili. Sampai sekarang hutan-hutan toili sudah digunduli dengan pencarian tambang emas, minyak bumi dan penanaman kelapa sawit.

Ekspoitasi MEDC di Block Senoro Toili Capai 60%

Jakarta - PT Medco Energi International Tbk (MEDC) melaporkan kegiatan eksplolasi di blok Senoro Toili PSC Sulawesi capai 60% dan blok Simenggarig PSC Kaltim bulan Januari 2011.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Senin (14/2). Untuk Blok Senoro Toili PSC perseroan telah menyelesaikan proses penampangan awal dari pre stack time migration (PSTM) atas ke 15 garis lintasan hasil rekaman seismik 2-D Resolusi tinggi di daerah Kolo (Tiara dan pandaoke (Grupa). Perseroan telah merekam 9 garus lintasan sepanjang 133,7 km di Kolo atau Tiara dan 6 garis lintasan sepanjang 66,8 km di Pandaoke (Grupa) dan pada akhir bulan September 2010.

Perseroan juga telah mulai memproses Pre Stack Depth Migration (PSDM) untuk mendapatkan gambar dari penambang awal PSDM untuk data lapangan Pandaoke. Perseroan telah membuat model geologi dan velositi yang berakhir untuk mendapatkan PSDM dari lapisan seismik yang terkini.

Perseroan akan melanjutkan proses studi seismik inversi atribute & AVO serta sudi penajaman Prospek Hidrokarbon di Tiada dan Grupa yang saat ini telah mencapai progress 60%.

Untuk Block Simenggaris PSC, pada Januari 2011 perseroan telah melanjutkan kegiatan survei seismik 2-D atas seluruh blok yang dimulai dilakukan sejak 16 September 2010. Tujuannya untuk menambah data serta mengkonfirmasi keberadaan struktur jebakan hidrokarbon. Kegiatan dimulai dengan melakukan penanaman Bench Mark dan survei topografi. survei ini meliputi 61 lintasan dengan total panjang 640 km. Hal ini melewati daerah darat, rawa dan sungai. perseroan melakukan kegiatan ini sejak 21 Desember 2010.

BANGGAI REALISASIKAN LUAS TANAM SAWAH 48,2 PERSEN

Luwuk, 4/7 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng) baru dapat merealisasikan luas tanam sawah sebesar 48,4 persen dari 34.848 Hekatare (Ha) yang ditargetkan oleh pemerintah pusat. "Luas tanam yang dapat direalisasikan sebesar 14.981 Ha hingga Juni. Beberapa kecamatan sentra pertanian sawah sedang memasuki musim tanam Agustus dan September," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Banggai, Heni Erli Evi Avianti, di Luwuk, Senin. Daerah yang sedang siap melakukan penanaman adalah Batui, Toili, Toili Barat, Masama, Luwuk Timur. Daerah tersebut mulai menanam padi pada agustus dan september. "Daerah seperti Nuhon dan Bunta sedang melakukan penebaran benih. Data-data luas tanam dari kecamatan belum masuk," terang Heni. Heni mengatakan, target luas tanam Banggai bisa tercapai dengan dua kali masa tanam. "Kita masih menyisakan dua masa tanam lagi, sehingga target bisa tercapai," kata Heni. Perubahan cuaca ikut mempengaruhi jadwal tanam terutama daerah sawah tadah hujan. "Ada beberapa irigasi yang volume airnya surut walau tidak seginifikan. Tapi kondisi itu mempengaruhi jadwal tanam," kata Heni. Banggai juga ditarget luas panen sebesar 33.106 Ha tahun 2011. Hingga Juni luas lahan yang bisa dipanen baru mencapai 13.922 Ha. Dengan luas panen tersebut, Banggai ditarget produksi beras sebesar 162.210 ton. Kualitas produksi beras Toili, Toili Barat, Batui dan Moilong turun akibat cuaca buruk saat panen. "Warnanya sedikit kekuningan, tapi tidak merusak kualitas beras secara keseluruhan," terang Heni. Beras Banggai diperdagangkan hingga kabupaten Banggai Kepulauan, Morowali bagian barat serta 10 kecamatan di kabupaten Sula (Maluku Utara).

HARGA BERAS DI PASARAN LUWUK MASIH NORMAL

Luwuk, 3/7 (ANTARA) - Harga beras di pasaran Luwuk (ibu kota Kabupaten Banggai), Sulawesi Tengah, menjelang Ramadhan tahun ini masih normal. Beras kualitas bagus seperti cintanur dijual Rp6.800 per kilogram, santana Rp6.000 per kilogram, dan superwin Rp6.200 per kilogram. Redha (35), pedagang beras dari Dataran Toili (lumbung beras di Kabupaten Banggai) yang ditemui di Pasar Simpong Luwuk, Ahad, mengatakan padi yang dipanen petani banyak menumpuk di penggilingan sehingga harga jual beras masih normal hingga sekarang. Permintaan padi di penggilingan juga, katanya, relatif stabil sehingga beras banyak menumpuk di gudang penggilingan. Namun demikian, Redha mengatakan kualitas beras hasil panen petani di wilayahnya berwarna kekuning-kuningan akibat curah hujan yang tinggi saat panen berlangsung. Haji Sudirman (51), pedagang pengecer di Pasar Simpong, mengatakan sekalipun bulan puasa semakin dekat, namun permintaan beras oleh masyarakat masih normal. "Biasanya awal bulan sebelum Ramadhan sudah ramai pembeli beras. Tapi kini belum ada peningkatan dalam jumlah besar," katanya. Sudirman menduga peningkatan pembelian beras di daerahnya akan terjadi setelah pegawai negeri sipil menerima gaji 13 pertengahan Juli mendatang. Asri Handaman, pedagang antarpulau, yang ditemui di Pelabuhan Lalong Luwuk mengatakan pengiriman beras ke wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan hingga saat ini masih normal. "Biasanya permintaan akan naik mendekati Ramadhan, apalagi sekarang harga belum tinggi sehingga masyarakat belum tergesa-gesa memborong beras," katanya. Harga beras di pasaran kota Luwuk beberapa waktu lalu sempat melambung hingga Rp7.200 per kilogram, namun kembali normal setelah berlangsung panen padi di Toili, Batui Selatan, dan Moilong. Pemerintah Kabupaten Banggai menargetkan produksi beras tahun 2011 ini sebesar 173.593 ton dari luas areal tanam 34.848 hektare, sedangkan rencana produksi pangan non beras sebanyak 27.944 ton.

Petani Toili Beralih ke Tambang Emas

(ANTARA) - Petani yang selama ini menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian padi di Toili, Kabupaten Banggai, kini beralih ke tambang emas.

"Saya cukup khawatir, Toili yang selama ini menjadi sentra produksi beras terbesar di kabupaten itu bisa terancam kekurangan kebutuhan pokok dimaksud," kata Kepala Dinas Pertanian Sulteng Abdullah Kawulusan di Palu, Jumat.

Ia mengatakan, belakangan ini ada sebagian petani di dataran Kecamatan Toili yang tidak lagi mengolah sawah mereka. Mereka lebih memilih untuk bekerja sebagai buruh di tambang emas, karena mungkin penghasilannya lebih bagus.

Padahal, kata Kawulusan, harga beras di tingkat petani saat ini cukup bagus.

Harga beras di tingkat produsen berkisar Rp5.300 sampai Rp5.400/kg, naik dari sebelumnya hanya Rp4.700 sampai Rp4.800/kg.

Kenaikkan harga beras, menyusul kebijakan pemerintah yang telah meningkatkan standar harga pembelian beras menjadi Rp5.060/kg, dan sebelumnya Rp4.600/kg.

Semestinya, dengan membaiknya harga beras diharapkan petani makin bergairah meningkatkan produksi.

Namun kenyataanya, justru di tengah-tengah membaiknya harga beras, sebagian petani padi di daerah-daerah pertambangan emas, khususnya di Kabupaten Banggai justru beralih bekerja sebagai buruh tambang.

Menurut dia, tindakan itu sangat keliru. "Tapi itu sudah pilihan mereka," katanya.

Selain petani itu sendiri yang beralih profesi, juga banyak buruh tani di Toili yang telah mengalihkan pekerjaan mereka menjadi buruh tambang emas.

Akibatnya, petani di wilayah itu kesulitan melakukan panen tepat pada waktunya, sebab banyak buruh tani yang telah bekerja di lokasi-lokasi pertambangan emas di daerah yang terletak dibagian Timur Sulteng.

Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Divisi Regional Sulteng Makkeng Ali secara terpisah membenarkan, petani di Toili banyak yang tidak lagi mengolah sawah mereka.

Selain karena kesulitan buruh tani, juga ada sebagian petani yang sengaja tidak lagi mengelolah sawah, dan memilih menjadi pekerja tambang.

Akibatnya, padi yang seharusnya sudah waktunya untuk dipanen, tidak bisa dipanen karena petani kesulitan mendapatkan buruh tani.

Ia mengatakan, pengadaan beras di Kabupaten Banggai yang selama ini menjadi salah satu daerah di Sulteng sebagai pemasok beras stok nasional di provinsi ini relatif kecil.

"Bayangkan saja selama Januari sampai medio November 2010 ini, realisasi pengadaan beras di daerah itu baru sekitar 200 ton," katanya.

Padahal, pada musim panen tahun-tahun sebelumnya, realisasi pengadaan beras di Kabupaten Banggai rata-rata diatas 2.000 ton.

Sementara total pengadaan beras di Sulteng saat ini baru mencapai 5.000 ton dari target 10.000 ton.

Toili Semakin Menggila (Sedikit Cerita Sekilas Tambang Emas Toili)


Tambang emas Toili??? Ya. Toili memang memiliki sebuah kekayaan yang tersimpan selain sebagai lumbung padinya kota Luwuk. Tapi sejak setahun terakhir, Toili diramaikan dengan adanya temuan tambang emas, dan ini diperkirana mencapai kurang lebih 65 KM. Ya, 65 KM (katanya orang-orang aih) hehehe.
Ini menjadi salah satu sumber mata pencaharian baru untuik masayarakat Toili dan sekitarnya, bahkan dari luar daerah pun banyak yang sengaja datang untuk ikut nimbrung cari emas. Tapi di sisi lain, tambang emas ini juga membawa sisi lain (mo bilang bencana kok sadis amat), seperti semakin banyaknya masyarakat yang meningggal (ya akibat tertimbun dengan tanah galian emas tersebut), rusaknya permukaan tanah, mulai dari 1 meter hingga puluhan meter ke dalam tanah. Yah mo gimana lagi, namanya emas juga adanya di dalam tanah, kalo di atas tanah namanya Mas Dhar. hehehe
Selain tempat-tempat yang masyarakat suah ketahui keberadaan emasnya, masyarakat masih terus mencari tempat-tempat baru untuk menggali sisa-sisa timbunan emas yang ada. Kenpa sisa??? ya karena tinggal tersisa sedikit, yang lalu sekali turun sehari masyarakat mampu mendapatkan puluhan gram bahkan ons, tapi sekarang untuk mendapatkan 1 KG sehari aja sulitnya minta ampun. Yang meneyedihkan, masyarakat terus mencari di tempat-tempat yang tidak jauh dari tempat sebelumnya. Jika Anda sempat datang ke Toili, di Unit 2 sekarang sisi kiri dan sisi kanan sudah hampir habis dikarenakan masyarakat mulai mencari emas tersebut di pinggir-pinggir jalan. 
Sedikit cerita nih. Ada seorang bapak datang ke toili untuk berburu emas. nah bapak ini udah punya istri dan anak. Setelah di Toili dan mencapatkan emas yang cukup, dia menikah dengan orang asli Toili. Gak taunya sodara si istri bapak tersebut datang dari Jawa dan tahu kalo suami sodaranya di sini menikah lagi, tanpa rasa takut dan khawatir, si sodara istri bapak tadi langsung saja membacok si bapak pencari emas tadi. SADIS gak tuh, cuma gara-gara dia nikah...
JIka Anda sempat singgah ke luwuk.... silakan singgah ke toili untuk melihat keadaan sesungghuhnya.... bye, tar disambung lagi...

Mitsubishi Akuisisi Saham Medco di Blok Senoro-Toili

JAKARTA – Mitsubishi Corporation, perusahaan energi asal Jepang, mengakuisisi 100% saham Tomori E&P Limited (TEL), anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk. Nilai akuisisi 100% saham tersebut mencapai US$ 260 juta atau setara Rp 2,34 triliun.Direktur Utama Medco Energi Darmoyo Doyoatmojo mengatakan, hasil dari akuisisi TEL oleh Mitsubishi akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan.
“Semula, TEL merupakan pemegang 20% hak partisipasi (production sharing contract/PSC) wilayah kerja Senoro-Toili. Selain TEL, Senoro-Toili jugs dimiliki PT Medco E&P Tomori Sulawesi 30% dan PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi 50%,” kata Darmoyo, dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Investor Daily, Senin (31/1).
Darmoyo menjelaskan, kemudian pada 2000, TEL mengambil alih 50% hak partisipasi Senoro-Toili. Blok Toili saat ini memproduksi 1.900 barel minyak per hari. Selain itu, TEL juga pemegang perjanjian jual beli gas (PJBG) sebesar 250 juta standar kaki kubik per hari (milion metric standard cubic feet per day/ mmscfd) dari PT Donggi Senoro LNG (DSL).
Menurut Darmoyo, saham PT DSL saat ini dimiliki Sulawesi LNG Development Limited 59,9%, Pertamina Energy Services Pte Ltd 29%, dan PT Medco LNG Indonesia 11,1%. PT DSL akan membangun kilang gas alam cair (liquefied naturalgas/LNG) berkapasitas dua juts ton per tahun di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Selain itu, juga akan dihasilkan kondesat sebesar rata-rata 47 ribu barel per hari setara minyak bumi.
“Pekerjaan pengembangan untuk memproduksi gas dari lapangan Senoro akan dimulai segera dengan target produksi mulai triwulan-II 2014. Kami percaya masuknya Mitsubishi dalam blok Senoro-Toili akan mewujudkan sinergi terhadap kegiatan proyek pengembangan gas Senoro, baik dari sisi hulu maupun hilir,” ujar Darmoyo.
Dia menambahkan, kerja sama tersebut akan meningkatkan nilai tambah dan memberikan kepastian yang lebih tinggi terhadap kelangsungan proyek Donggi-Senoro.
“Selain itu, penjualan TEL ke Mitsubishi juga bagian dari program optimalisasi aset yang telah menjadi fokus dari strategi kami untuk menurunkan utang dan memperbaiki buku perseroan,” jelas Darmoyo.
Perubahan komposisi saham di proyek Donggi-Senoro tak hanya terjadi kali ini. Sebelumnya, Korea Gas Corporation (Kogas) juga masuk memiliki saham tak langsung PT DSL sebesar 14,98%. Kogas masuk setelah membeli saham Medco LNG sebesar 8,9%. Semula, Medco LNG memiliki 20% saham di PT DSL. Selain itu, Kogas juga membeli saham Mitsubishi sebesar 6,08% di PT DSL.
.
Kogas dan Mitsubishi pun sepakat membentuk unit usaha bernama Sulawesi LNG Development Limited yang menguasai 59,9% saham PT DSL.
Lukman Mahfoedz, direktur Proyek PT Medco Energy Internasional Tbk (induk usaha Medco LNG), pernah mengatakan, pengurangan saham Medco LNG dart 20% menjadi 11,1% merupakan bagian dari strategi perusahaan. “Medco memiliki tujuh proyek utama yang membutuhkan dana cukup besar dengan target penyelesaian pada 2014. Kami memang membatasi kepemilikan Medco LNG di PT DSL hanya sebesar 11,1%,” kata dia.
Keputusan akhir investasi (final investment decision/FID) proyek Donggi-Senoro telah diputuskan sejak 31 Desember 2010. “Kami pun telah menuntaskan semua formalties of all outstanding issue terkait FID pada 21 Januari lalu,” ujar dia.
Lukman menambahkan, proyek tersebut merupakan pertama kali bagi Medco dalam hal bisnis LNG. Proyek Donggi-SenorG pun merupakan proyek kedua bagi Mitsubishi Corp, setelah proyek pertama mereka di Tangguh, Papua.
Proyek. Donggi-Senoro terdiri atas dua skema, yakni hulu dan hilir. Di hulu, proyek itu dikembangkan PT Pertamina Hulu Energi dan Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi dengan menggarap Lapangan Matindok (Donggi) dan Senoro. (c05)
Sumber: INVESTOR DAILY, Selasa 01 Februari 2011, 06: 40: 10 WIB
Oleh : Heriyono
Sumber Gambar: forumkami.com

Penyerahan Alat Musik di Desa Pasir Lampa, Toili Barat

Hari Minggu tanggal 17 Juli 2011, dinas Kebudayaan dan pariwisata Kab. Banggai  menyerahkan bantuan alat musiK Bandelan Black Ganyur di desa Pasir Lamba kec. Toili barat yang diserahkan oleh Bupati Banggai diwakili oleh Kadis kebudayaan dan pariwisata kab.Banggai dihadiri juga oleh Ketua DPRD Kab. Banggai dan disaksikan oleh Pemerintah Kec. Toili Barat serta pengurus hindu Dharma Kab. Banggai dan Wanita Hindu Dharma Kab. Banggai yang berjumlah sekitar 500 orang. Diharapkan alat music tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dalam pengembangan seni sekaligus pelaksanaan acara ritual keagamaan masyarat Hindu dharma di kec. Toili Barat.

Minggu, 25 Desember 2011

Toili, Banggai

Toili adalah sebuah kecamatan di Kabupaten BanggaiSulawesi TengahIndonesia
Merupakan daerah pertanian di kab. Banggai, karena daerah tsb dibuka oleh pemerintah 
dan dijadikan daerah tujuan transmigrasi dengan penduduk dari daerah jawa, bali dan
 nusatenggara. Penduduk yang dominan berasal dari daerah Jawa dan Bali, sehingga
 tidak heran bila dalam percakapan sehari-hari kita temukan bahasa jawa dan bali. 
Disamping lahan pertanian, di daerah Toili juga terdapat lahan kebun sawit milik
 PT. Kurnia Luwuk Sejati (Hi Murad Husain) yang merupakan pemilik kebun sawit terluas
 didaerah tsb serta telah mengolah menjadi CPO. Toili menjadi semakin semarak 
dengan adanya eksporasi LNG didaerah Donggi-Senoro serta munculnya 
banyak penambang emas rakyat sejak awal 2010, sehingga ribuan penduduk 
banyak yang bekerja sebagai pendulang emas. Emas yang dihasilkan berkualitas 
tinggi karena berjenis emas putih, sehingga harganya pun cukup tinggi, 
mencapai Rp 380 ribu/gram. Dengan daya tarik harga emas putih tsb, 
tidak heran bila daya tawar tenaga kasar (tukang, buruh pabrik, buruh tani dll) 
menjadi semakin mahal dan tentunya kerusakan lahan akibat pnambangan emas
 rakyat sudah mulai mencemaskan. Disamping kaya akan migas dan hasil pertaniannya, 
di kawasan ini juga banyak berdiri lembaga pendidikan formal dan non formal, termasuk
 Pondok Pesantren. Diantaranya Ponpes. Darussalam desa Jayakencana dan Ponpes. 
Darul Ulum
kelurahan Toili


Toili
—  Kecamatan  —
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Tengah
KabupatenBanggai
Pemerintahan
 - Camat-
Luas- km²
Jumlah penduduk-
Kepadatan- jiwa/km²
Desa/kelurahan-

03/07/2010 21:51
Liputan6.com, Luwuk Banggai: Banjir akibat hujan yang turun beberapa hari terakhir masih melanda tiga desa di Kecamatan Toili, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, Sabtu (3/7). Ketiga desa itu adalah Desa Saluan, Rusa Kencana, dan Cendana Pura. Banjir diakibatkan Sungai Tambolosong meluap lantaran tidak mampu menahan debit air hujan yang turun.

Selain merendam ratusan rumah warga dan sekolah, banjir juga menggenangi puluhan hektare lahan persawahan serta perkebunan. Bernuntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, para petani menderita kerugian. Banjir juga mengakibatkan jalur transportasi darat terganggu akibat tergenang air.(BOG)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More